Tuesday, July 16, 2019

FILSAFAT ILMU


1.      Apakah manfaat mempelajari filsafat ilmu ditinjau dari profesionalisme  sebagai guru dan non guru.
Jawab:
Manfaat mempelajari filsafat ilmu ditinjau dari profesionalisme sebagai guru dan non guru secara garis besar adalah
a.      Dengan mempelajari filsafat ilmu diharapkan guru dan non guru semakin kritis dalam sikap ilmiahnya. Baik guru dan non guru sebagai insan manusia diharapkan untuk untuk berpikir kritis terhadap berbagai macam teori yang dipelajarinya di ruang kuliah maupun dari sumber-sumber lainnya.
b.      Mempelajari filsafat ilmu mendatangkan kegunaan bagi para guru dan calon guru sebagai calon ilmuwan untuk mendalami metode ilmiah dan untuk melakukan penelitian ilmiah. Dengan mempelajari filsafat ilmu diharapkan mereka memiliki pemahaman yang utuh mengenai ilmu dan mampu menggunakan pengetahuan tersebut sebagai landasan dalam proses pembelajaran dan penelitian ilmiah.
c.       Mempelajari filsafat ilmu memiliki manfaat praktis. Setelah mahasiswa lulus dan bekerja, mereka pasti berhadapan denagn berbagai masalah dalam pekerjaannya. Untuk memecahkan masalah diperlukan kemempuan berpikir kritis dalam menganalisis berbagai hal yang berhubungan dengan masalah yang dihadapi.
d.      Membiasakan diri untuk bersikap logis-rasional dalam Opini & argumentasi yang dikemukakan.
e.      Mengembangkan semangat toleransi dalam perbedaan pandangan (pluralitas). Karena para ahli filsafat tidak pernah memiliki satu pendapat, baik dalam isi, perumusan permasalahan maupun penyusunan jawabannya.
f.        Mengajarkan cara berpikir yang cermat dan tidak kenal lelah.
g.      Mengembangkan ilmu dan teknologi dalam batasan nilai ontologis. Melalui paradigma ontologism diharapkan dapat mendorong pertumbuhan wawasan spiritual keilmuan yang mampu mengatasi bahaya sekularisme segala ilmu.
h.      Mengembangkan ilmu dan teknologi dalam batasan nilai epistemologis. Melalaui paradigma epistemologis diharapkan akan mendorong pertumbuhan wawasan intelektual keilmuan yang mampu membentuk sikap ilmiah.
i.        Mengembangkan ilmu dan teknologi dalam batasan akiologi. Melalui paradigma aksiologis diharapkan dapat menumbuhkembangkan nilai-nilai etis, serta mendorong perilaku adil dan membentuk moral tanggung jawab. Segala macam ilmu dan teknologi dipertanggung jawabkan untuk kepentingan obyek semua sebagai sumber kehidupan.
j.        Filsafat ilmu bermanfaat untuk membangun diri kita sendiri dengan berpikir secara radikal (berpikir sampai ke akarnya) sehingga kita mengalami dan menyadari keberadaan kita.

2. Ilmu pengetahuan sampai saat ini belum selesai dan tidak mungkin bisa selesai. Mengapa demikian?
Jawab:
Alasan ilmu pengetahuan sampai saat ini belum selesai dan tidak mungkin bisa selesai adalah karena adanya keingintahuan manusia mengenai kejadian-kejadian yang terjadi di alam dan sekitarnya, yang menyebabkan manusia terus menerus mencari apa penyebab dan bagaimana cara mengatasi kejadian-kejadian yang terjadi di alam tersebut,seperti terjadinya bencana tanah longsor, banjir, kebakaran dan sebagainnya. Adanya mitos-mitos yang berkembang di masyarakat juga ikut mempengaruhi perkembangan ilmu alamiah hal ini dikarenakan manusia ingin mencari kebenaran mitos tersebut yang biasanya berkaitan dengan gejala-gejala alam. Selain itu karena manusia merupakan makhluk hidup yang memiliki pancaindra, sehingga membuat manusia dapat tanggap terhadap suatu rangsangan yang terjadi, termasuk gejala-gejala di alam semesta ini, tanggapan terhadap gejala-gejala tersebut merupakan suatu pengalaman. Pengalaman tersebut terjadi zaman ke zaman akan berakumulasi karena manusia memiliki rasa ingin tahu yang kuat terhadap segala yang terjadi di alam semesta ini. Pengalaman merupakan salah satu cara terbentuknya pengetahuan. Pengetahuan merupakan kumpulan fakta - fakta. Pengalaman ini akan terus menurus berkembang seiring berjalannya waktu selama manusia masih hidup di muka bumi ini dan akan mewariskan pengetahuan itu kepada generasi berikutnya. Pengetahuan terus berkembang terjadi karena adanya dorongan untuk memenuhi dan memuaskan diri yang bersifat nonpraktis atau teoritis guna untuk memenuhi rasa ingin tahu dan memahami hakikat alam semesta dan se-isinya, serta, adanya dorongan praktis yang memanfaatkan pengetahuan itu untuk meningkatkan taraf hidup yang lebih tinggi. Kedua dorongan ini menimbulkan dan menumbuhkan kemajuan ilmu pengetahuan. Dorongan pertama menuju ilmu pengetahuan murni (pure science), sedangkan dorongan kedua menuju ilmu pengetahuan terapan (applied science). Ilmu pengetahuan bersifat alamiah merupakan kegiatan manusia yang bersifat aktif dan dinamis, maksudnya adalah kegiatan manusia yang tidak ada hentinya dari hasil percobaan akan menghasilkan konsep-konsep baru, selanjutnya konsep-konsep tersebut akan terus mendorong dilakukannya percobaan berikutnya dan seterusnya.3.
3. Coba ujilah secara filsafat tentang  pendidikan Ekonomi sebagai  ilmu  dilihat dari ontologi, epistemologi dan aksiologi.
Jawab:
Pendidikan ekonomi sebagai ilmu dilihat secara filsafat dari ontologi, epistemologi dan aksiologi adalah sebagai berikut:
·       Ontologi
Pengertian ontologi ialah hakikat apa yang dikaji atau ilmunya itu sendiri. 3 teori kebenaran yaitu teori korespondensi (segala sesuatu yang kita ketahui adalah sesuatu yang dapat dikembalikan pada kenyataan yang dikenal oleh subjek, koherensi (suatu proposisi cenderung benar jika proposisi tersebut dalam keadaan salain berhubungan dengan proposisi lain yang benar, atau jika makna yang dikandungnya dalam keadaan saling berhubungan dengan pengalaman kita), dan pragmatisme (meletakkan ukuran kebenaran dalam salah satu macam konsekuensi). Ilmu ekonomi mempunyai perebidaan dengan ilmu social lainnya, yaitu terletak pada objek materialnya dimana ilmu ekonomi memiliki inti permasalahan yaitu kelangkaan. Sehingga objek ilmu ekonomi adalah mempelajari bagaimana manusia melakukan pilihan dari adanya kelangkaan sumber daya ekonomi untuk digunakan dalam pemenuhan kebutuhan untuk kegiatan konsumsi maupun produksi. Dari permasalahan di atas jelas bahwa permasalahan ekonomi timbul karena adanya kebutuhan yang jumlahnya tak terbatas sedangkan alat-alat pemuas kebutuhan adanya terbatas.
·         Epistimologi.
Yang dimaksud dengan epistimologi ialah bagaimana mendapatkan pengetahuan yang benar. Metode penelitian disiplin ekonomi antara lain:
a.      Analisis data secara matematik dan statistic dari pemerintah atau dokumen lain (misalnya, angka penganguran, tingkat kebutuhan dasar)
b.      Survey (penelitian kuantitatif melalui angket, wawancara, observasi)
c.       Study kasus (mengkaji masalah sosial)
d.      Pengembangan dan pengujian model secara teoritis
e.      Perbandingan (perbandingan antar bangsa, antar tempat)
f.        Penghitungan rasio dan presentase
g.      Penghitungan jumlah indeks (indeks harga, dsb)
h.      penghitungan rata-rata, distribusi rata-rata, aritmatik
·         Aksiologi.
Aksiologi ialah menyangkut masalah nilai kegunaan ilmu. Nilai-nilai ekonomi yang harus dikembangkan dalam proses pembelajaran ekonomi adalah: hemat (menggunakan seseuatu tidak berlebihan), kerja keras (kegiatan yang dilakukan sungguh-sungguh), motivasi yang tinggi (alasan kuat untuk mencapai yang diinginkan dengan bekerja), orientasi laba (berprioritas pada keuntungan), pantang menyerah (gigih bekerja), dan berani mengambil resiko (bertanggung jawab pada keputusan yang dipilih). 
4.  Dalam kontek globalisasi Pendidikan di Indonesia mau tidak mau harus terlibat di dalam perubahan dan perkembangan Pendidikan dunia. Strategi apa  yang harus dipersiapkan agar Indonesia tetap eksis jati dirinya.
Jawab:
Strategi yang harus dipersiapkan pendidikan di Indonesia agar tetap eksis jati dirinya dalam kontek globalisasi (perubahan dan perkembangan) pendidikan di dunia yaitu dengan mempersiapkan manusia yang berkualitas dan mampu berkompetisi sesuai dengan kemajuan ilmu dan teknologi melalui pendidikan. Untuk membekali terjadinya pergeseran orientasi pendidikan di era global dalam mewujudkan kualitas sumber daya manusia yang unggul, diperlukan strategi pengembangan pendidikan, antara lain:
a.      Mengedepankan model perencanaan pendidikan yang berdasarkan pada karakteristik masyarakat dan partisipasi masyarakat yang merupakan tuntutan yang harus dipenuhi.
b.      Peran pemerintah bukan sebagai penggerak, penentu dan penguasa dalam pendidikan, namun pemerintah hendaknya berperan sebagai fasilitator, dan pemberdaya masyarakat.
c.       Penguatan fokus pendidikan diarahkan pada pemenuhan kebutuhan masyarakat, kebutuhan pasar dan tuntutan teman saing.
d.      Pemanfaatan sumber luar dengan memanfaatkan berbagai potensi sumber daya (belajar) yang ada, lembaga-lembaga pendidikan yang ada, pranata-pranata kemasyarakatan, perusahaan/industri, dan lembaga lain yang sangat peduli pada pendidikan.
e.      Memperkuat kolaborasi dan jaringan kemitraan dengan berbagai pihak, baik dari instansi pemerintah maupun non pemerintah, bahkan baik dari lembaga di dalam negeri maupun dari luar negeri.
f.        Menciptakan masyarakat yang gemar belajar, sebagai masyarakat belajar seumur hidup.
g.      Pemanfaatan teknologi informasi, yaitu: lembaga-lembaga pendidikan baik jalur pendidikan formal, informal maupun jalur non formal dapat memanfaatkan teknologi informasi dalam mengakses informasi dalam mengembangkan potensi diri dan lingkungannya (misal; penggunaan internet).
h.      Pendidikan harus dapat berperan sebagai alat yang ampuh untuk menyaring budaya-budaya yang masuk dan sekaligus menguatkan budaya lokal yang memang masih perlu dijunjung. Dengan demikian, lembaga pendidikan dituntut, misalnya, harus menciptakan kurikulum yang dapat memberdayakan tradisi lokal, supaya tidak punah akibat pengaruh globalisasi.
                5. Apa yang harus dipersiapkan oleh guru  terkait dengan Pendidikan berbasis 4.0.
Jawab:
Hal-hal yang harus dipersiapkan oleh guru terkait dengan pendidikan berbasis 4.0 adalah sebagai berikut:
a.      Guru Harus Mampu Melakukan Penilaian Secara Komprehensif
Guru masa kini harus mampu merancang instrumen penilaian yang menggali semua aspek yang menyangkut siswa, baik pengetahuan, keterampilan dan karakter. Semua aspek tersebut harus tergali, terasah dan terevaluasi selama proses pembelajaran di kelas. Selain perancangan instrumen penilaian, guru masa kini pun harus mampu membuat laporan penilaian yang menggambarkan keunikan dan keunggulan setiap siswa. Laporan penilaian ini akan sangat bermanfaat bagi peserta didik dan orang tuanya sebagai bagian dari feed back untuk terus meningkatkan hasil capaian pendidikannya.
b.      Guru Harus Memiliki Kompetensi Abad 21
Untuk mewujudkan siswa yang memiliki keterampilan abad 21 maka gurunya pun harus memahami dan memiliki kompetensi tersebut. Ada 3 aspek penting dalam kompetensi abad 21 ini, yaitu: (1) Karakter, yang dimaksud dalam kompetensi abad 21 terdiri dari karakter yang bersifat akhlak (jujur, amanah, sopan) dan karakter kinerja (kerja keras, tanggung jawab, disiplin); (2) Keterampilan, yang perlu dimiliki oleh guru masa kini untuk menghadapi peserta didik abad 21 antara lain kritis, kreatif, kolaboratif dan komunikatif; dan (3) Literasi, kompetensi abad 21 mengharuskan guru melek dalam berbagai bidang. Setidaknya mampu menguasai literasi dasar seperti literasi finansial, literasi digital, literasi sains, literasi kewarnegaraan dan kebudayaan.
c.       Guru Harus Mampu Menyajikan Modul Sesuai Passion Siswa
Guru masa kini harus mampu menyajikan materi pelajaran dalam bentuk modul yang bisa diakses secara online oleh para peserta didik. Sudah banyak fitur yang bisa dijadikan oleh guru sebagai sarana untuk mengembangkan modul berbasis online. Namun demikian ketersediaan fitur untuk modul online ini harus dibarengi dengan kemampuan guru dalam mengemas fitur-fitur tersebut. Kombinasi antara pembelajaran tatap muka di kelas (konvensional) dan pembelajaran online ini dikenal dengan istilah blended learning.
d.      Guru Harus Mampu Melakukan Autentic Learning yang Inovatif 
               Sekolah adalah jendela untuk membuka dunia sehingga para siswa mengenali dunia. Untuk menjadikan sekolah sebagai jendela dunia bagi para peserta didik, guru harus memiliki kompetensi penyajian pembelajaran yang inovatif. Pembelajaran yang disajikan harus mengarah pada pembelajaran inovatif. Dengan pembelajaran yang inovatif akan menjadikan peserta didik lebih terlatih dan terasah dalam semua kemampuannya, sehingga diharapkan lebih siap dalam menghadapi perkembangan zaman.