SOAL!
- Di masyarakat, kelas IPS dianggap maasih menjadi second class, sehingga siswa-siswi masih banyak yang kurang serius dalam mengikuti pembelajaran, termasuk pembelajaran ekonomi. Selain itu, materi-materi pembelajaran ekonomi kurang bersifat kontekstual (hanya sebatas teoritis) sehingga siswa-siswi lebih cenderung menghapal materi dibandingkan mengerti makna materi tersebut. Apa yang harus dilakukan seorang guru untuk menghilangkan image ini!.
JAWABAN:
- Selama ini pembelajaran IPS khususnya materi pembelajaran ekonomi di Indonesia masih kurang menarik. Beberapa faktor yang mempengaruhi persepsi siswa terhadap kelas IPS khususnya pembelajaran ekonomi terdiri dari tiga faktor yaitu hubungan langsung sikap siswa dengan guru, lingkungan belajar, dan sikap siswa yang sudah terbentuk sebelumnya seperti motivasi, percaya diri, dan pengakuan pentingnya materi pelajaran. Lingkungan belajar memegang peran kuat dalam membentuk sikap siswa terhadap ilmu sosial. Faktor guru dalam menciptakan lingkungan belajar yang positif seperti membantu siswa belajar, antusiasme, dan perhatian individu sangat berkorelasi dengan sikap siswa terhadap materi pelajaran. Mager (Zamroni, 2008) menyatakan bahwa sikap dan persepsi adalah kunci keberhasilan siswa dalam pembelajaran. Tujuan pembelajaran ekonomi di kelas IPS adalah memberi kesempatan siswa mempelajari masalah sosial-ekonomi sehingga menjadikan siswa ahli ekonomi. Untuk tujuan, materi, dan organisasi pelaksanaan pembelajaran ilmu sosial perlu dirumuskan secara komprehensif, dalam bentuk kompetensi yang harus dikuasai siswa setelah mengikuti pembelajaran. Penerapan berbagai variasi metode oleh guru sangatlah penting untuk memberikan kesempatan siswa berdebat maupun diskusi. Pembelajaran diskusi membantu siswa meningkatkan kemampuan berpikir dan hasil dari diskusi adalah siswa dapat berkomunikasi dengan terampil. Pembelajaran kooperatif lebih sukses dalam studi kelas sosial karena siswa terlibat dalam kegiatan dan antusiasme dan kreativitas guru tinggi sehingga memberikan motivasi siswa untuk aktif dalam pembelajaran. Salah satu alternatif guru melaksanakan pembelajaran ekonomi bermakna dengan pendekatan scientific dengan model problem based learning, hal ini terbukti efektif meningkatkan hasil belajar siswa, melatih siswa menunjukkan sikap sosial yang baik seperti saling menghargai, dan melatih siswa mengemukakan pendapat (Setyowati, 2016). Guru perlu menyadari dan mempelajari perbedaan kecerdasan dan gaya belajar siswa dalam menerapkan strategi pembelajaran untuk memperbaiki iklim belajar yang memungkinkan terjadinya sikap positif tentang ilmu sosial (Alazzi, 2004). Guru perlu lebih meningkatkan model pembelajaran yang mengaktifkan siswa seperti penggunaan model pembelajaran kontekstual, kooperatif, kolaboratif, inkuiri, dan berbasis masalah sehingga pembelajaran khususnya ekonomi di kelas IPS menjadi lebih menarik dan bermakna. Dengan demikian, upaya guru menghilangkan image bahwa kelas IPS dianggap masih menjadi second class dan siswa masih kurang tertarik dengan pembelajaran di kelas IPS khususnya ekonomi karena pembelajaran kurang bermakna cenderung menghafal materi saja adalah inovasi yang dilakukan guru dalam menciptakan lingkungan belajar yang positif, membangun antusiasme dan motivasi siswa dalam pembelajaran ekonomi di kelas IPS, dan menggunakan model pembelajaran yang lebih mengaktifkan siswa seperti kooperatif dan berbasis masalah akan membuat pembelajaran menjadi lebih bermakna sehingga siswa dapat lebih tertarik mengikuti pembelajaran.
SOAL!
- Materi menjadi faktor utama yang harus diperhatikan dalam proses pembelajaran, apalagi pembelajaran ekonomi yang bersifat social. Perkembangan teknologi dan informasi serta perubahan lingkungan menuntut seorang guru harus mengikutinya. Dalam Revolusi industry 4.0 terdapat 3 literasi yaitu literasi Digital, literasi teknologi informasi dan literasi humanies. Bagaimana cara menghubungkan pembelajaran di pendidikan ekonomi dengan 3 literasi tersebut!
JAWABAN:
- Gerakan yang dicanangkan oleh pemerintah adalah gerakan literasi yang dimaksudkan terfokus pada tiga literasi utama yaitu, 1) literasi digital, 2) literasi teknologi, dan 3) literasi manusia (Aoun, 2017). Tiga keterampilan ini diprediksi menjadi keterampilan yang sangat dibutuhkan di era industri 4.0. Literasi digital diarahkan pada tujuan peningkatan kemampuan membaca, menganalisis, dan menggunakan informasi di dunia digital (Big Data), literasi teknologi bertujuan untuk memberikan pemahaman pada cara kerja mesin dan aplikasi teknologi, dan literasi manusia diarahkan pada peningkatan kemampuan berkomunikasi dan penguasaan ilmu desain (Aoun, 2017). Dalam dunia pendidikan, siswa merupakan salah satu pengguna informasi. Informasi dibutuhkan siswa tidak hanya dalam bentuk tercetak. Internet mulai menyajikan informasi dalam bentuk berbeda yaitu digital. informasi disajikan melalui berbagai fasilitas internet seperti website. Pengerjaan tugas sangat mudah terselesaikan dengan perkembangan internet dan teknologi digital. Kenyataan ini memunculkan adanya literasi digital. Hague dan Payton mengartikan bahwa literasi digital sebagai kemampuan individu menerapkan keterampilan fungsional pada perangkat digital sehingga seseorang dapat menemukan dan memilih informasi, berpikir kritis, berkreativitas, berkolaborasi dengan orang lain, berkomunikasi secara efektif, dan tetap menghiraukan keamanan elektronik serta konteks sosial-budaya yang berkembang. Dengan kata lain, literasi digital berperan dalam mengembangkan pengetahuan sesorang mengenai materi pelajaran tertentu dengan mendorong rasa ingin tahu dan kreativitas yang dimiliki oleh siswa. Untuk mendukung siswa mencari informasi secara digital, maka beberapa sekolah sudah memfasilitasi proses pembelajaran dengan menerapkan literasi digital seperti penyediaan komputer dan wifi. Literasi teknologi membantu siswa mempunyai keterampilan menentukan informasi dari sumber tidak terbatas dan komunikasi melalui komputer sehingga menemukan informasi yang berhubungan dengan pembelajaran (Ahmad, 2016). Sedangkan literasi manusia menjadi hal penting dalam bertahan di masa kini yang bertujuan agar manusia mempunyai fungsi yang baik dan dapat berinteraksi dengan sesama manusia (Intan: 2018). Tugas dunia pendidikan melalui proses pembelajaran menguatkan literasi baru dengan penguatan kompetensi di bidang keilmuan dan keahlian. Literasi humanies berhubungan dengan kemampuan berkomunikasi, kolaborasi, berpikir kritis, kreatif, dan inovatif (Rozak: 2018). Komunikasi menekankan penyampaian informasi. Kolaborasi salah satu bentuk interaksi sosial. Berpikir kritis bermakna proses penilaian secara mandiri. Kreatif adalah daya pikir mengadakan sesuatu. Sedangkan kolaboratif merupakan usaha seseorang mendaya gunakan kemampuan berimajinasi dalam menghasilkan produk baru. Dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dalam pendidikan ekonomi dapat terintegrasi dengan 3 literasi yaitu literasi digital, literasi teknologi, dan literasi humanies sehingga keterampilan siswa dapat meningkat.
Referensi:
- Ahmad, M., Badusah, J., Mansor, A. Z., Karim, A. A., Khalid, F., Daud, M. Y., Zulkefle, D. F. (2016). The application of 21st Century ICT Literacy Model Among Teacher Trainees. Turkish Online Journal of Educational Technology, 15(3), 151– 161.
- Alazzi, K. (2004). Students’ perceptions of social studies: a study of middle school and high school students in jordan. International Journal Of Scholarly Acadmic Intellectual Diversity, Volume 6.
- Aoun, J.E. (2017). Robot-proof: higher education in the age of artificial intelligence. US: MIT Press.
- Hague, C & Payto, S. Digital Literacy Across the Curriculum. Bristol: FutureLab. Diakses melalui https://www.nfer.ac.uk/publications/FUTLdiakses 26 April 2019
- Intan. 2018. Revolusi Industri 4.0. terdapat pada http://belmawa.ristekdikti.go.id/2018/01/17/erarevolusi-industri-4-0-perlu-persiapkan-literasi-data-teknologi-dan-sumber-dayamanusia/
- Rozak. 2018. Terdapat pada http://www.uinjkt.ac.id/id/perlunya-literasi-baru-menghadapi-era-revolusiindustri-4-0/
- Setyowati, R., Mulyani, E., &Yogyakarta, U. N. (2016). Harmoni Sosial : Jurnal Pendidikan IPS Volume 3 , No1 , Maret 2016 (74-81).
- Zamroni. (2008). Teaching social studies. Yogyakarta: UNY.
No comments:
Post a Comment